Berita

Nagari Jawi-Jawi Keren. Dengan Konsep Slow Tourism, Puluhan Bule Nikmati Suasana Perkampungan

  • Penulis: sinawaadmin, 19-10-2018 10:39
  • AROSUKA – Puluhan bule  berasal dari beberapa Negara, hadir  menikmati suasana kampung budaya, sebuah wilayah peradaban yang masih segar dengan keasliannnya di nagari Jawi-Jawi Guguak, Kabupaten Solok. Sebagai Kampung Wisata, Jawi-Jawi adalah satu dari puluhan nagari yang masih kental dengan kebiasaan sehari-hari di kaki Gunung Talang tersebut.

    Rombongan wisatawan dari mancanegara yang tergabung dalam Assosiation For the Internasional of Student Exchange and Commerce (AIESEC), hadir di Kampung Budaya Jawi-Jawi sebagai  rangkaian dari aktivitasnya untuk mengenali tradisi serta budaya penduduk lokal di Sumatera Barat. Sebagai destinasi wisata, Jawi Jawi adalah pilihan. Nagari nan elok itu juga dikenal memiliki banyak rumah Gadang,  sehingga  dinobatkan sebagai desa wisata Budaya oleh Kemenpar RI.

    Kepala Dinas Pariwisata, Yandra, menegaskan soal nagari Jawi Jawi yang masih sangat kental adat dan budayanya. Kata dia, Jawi Jawi Guguk layak dipromosikan ke pariwisata internasional. Potensi disini cukup unik.  Adat, budaya, dan makanan kuliner sebagai hasil produk UKM serta   pertanian di Nagari itu sangat mencerminkan identitas Solok seutuhnya. "Kita sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada turis yang notabene mahasiswa AISEC. 

    Kemudian juga mengajari mereka untuk merasakan sensasi gaya hidup masyarakat lokal," paparnya.

    Bemalam di Jawi Jawi, seperti  dikatakan Yandra,  para turis itu  membaur dengan masyarakat setempat. Mereka beradaptasi,  bagaimana cara hidup dan berkehidupan di Jawi Jawi Guguk. Anak-anak muda dari mancanegara itu diajak mandi dikali, makan bajamba, dan membajak sawah menggunakan tenaga kerbau.

    Itu dilakukan agar para turis  merasakan pengalaman baru yang belum pernah didapatkan di negara asalnya, karena kebanyakan turis tersebut berasal dari Eropa seperti Republik Ceko, Prancis dan Hungaria, kemudian juga ada dari Chile, dan Negara Asia Tenggara yakni Thailand dan Vietnam." Selama di Jawi Jawi, turis ini memakai pakaian khas Jawi Jawi Guguak, pakai deta dan sarung bagi laki-laki, serta memakai tingkuluak untuk perempuan, sehingga akan ada kesan mendalam bagi mereka," kata Yandra.

    Walinagari Jawi Jawi Guguk, Laswir mengaku besar hatinya. Apalagi melihat peran serta masyarakat dalam menyemarakkan nagari, ia sangat gembira. Kedatangan turis akan menjadi momentum bagi Jawi Jawi Guguk untuk menarik perhatian wisatawan asing berkunjung. “ Yang kita tonjolkan adalah aspek adat istiadat, budaya dan gaya hidup. Peran aktif masyarakat sangat diharapkan dalam menggerakkan wisata budaya,” ujarnya.

    Kunjungan wisatawan asing selama dua hari tersebut, merupakan kunjungan pertama dari mancanegara semenjak Jawi Jawi Guguk ditetapkan sebagai desa wisata budaya. Para wisatawan menginap di rumah gadang, agar nagari Jawi Jawi bisa lebih dikenal.

    " Kita tidak membuat target jangka pendek dalam membangun pariwisata. Namun target jangka panjang kita, kampung Wisata Budaya harus dipoles dari waktu ke waktu," tegasnya.

    Direktur Pusat Kajian Pariwisatan Unand  Padang, Sari Lenggogeni,  yang aktif dan ikut merekomendasikan Jawi-jawi menjadi desa Wisata, mengatakan aspek kebudayaan Nagari Jawi Jawi Guguk masih sangat kental, masih belum begitu tergerus oleh kebudayaan luar. Ia mendorong agarndilakukan pilestarian dengan pola mengembangkan wisata budaya. 

    Dengan cara begitu,  masyarakat juga punya peran dalam melestarikan hal-hal yang hari ini telah dipandang sebagai sesuatu yang unik. Maka, arah pengembangan Wisata budaya di Jawi Jawi ini lebih kepada peran serta masyarakat bagaimana mengelola kepariwisataan berbasis masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas pariwisata yang dicanangkan."kita tidak terlalu terburu-buru untuk mematok target banyak pengunjung yang datang, tapi lebih kepada bagaimana supaya pariwisata ini berkualitas. Biarlah, untuk awal sedikit, tapi seiring peningkatan kualitas, pengunjung akan bertambah," alasnya.

    Slow Tourism

    Mencomot statemen pakar pariwisata ini terhadap pembangunan kampung wisata budaya, Sari Lenggogeni pada akun resminya di media sosial facebook menukilkan soal menyikapi pentingnya dukungan terhadap pariwisata berkelanjutan,  yang merupakan bagian dari pakta Sustainable Development Goals.Ia menyadari bahwa tiga kunci penting untuk mendukung keberlanjutan pariwisata di suatu daerah (trutama untuk rural area) adalah menjaga keseimbangan: lingkungan, sosial budaya dan ekonomi kerakyatan.

    Konsep Slow tourism merupakan salah satu konsep yang mendukung suistanable tourism tersebut. Konsep ini berbanding terbalik dengan wisata massal (mass tourism) , wisata slow tourism ini berorientasi pada output  high quality experience atau kualitas pengalaman wisata si slow traveller tadi, dan proteksi destinasi host atau tuan rumah dengan menjaga keseimbangan lingkungan, sosial budaya masyarakat setempat dan memaksimalkan ekonomi masyarakat setempat melalui full community based tourism-nya.

    Untuk itu diperlukan sistem satu pintu nagari tourism board, dengan pokdarwis pelaku industri wisata masyarakat setempat, dan pengunjung dibatasi untuk menjaga keberlanjutan pariwisata tadi, dan untuk berkunjung akan melalui sistem reservasi (jumlah pengunjung dibatasi). Wisatawan juga akan diminta untuk mematuhi aturan yang diberlakukan di nagari Jawi jawi tersebut. " Itulah konsep dasar untuk nagari Jawi Jawi di kabupaten Solok dan masih tetap akan dibenahi.Alhamdulillah (Jawi Jawi) sudah masuk sebagai desa unggulan Kemenpar," tulisnya.